Perkembangan Asuransi di Indonesia

Bisnis asuransi di Indonesia sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Hal ini merupakan buntut dari banyaknya warga Belanda yang tinggal di Indonesia dan sukses menjalankan usaha dagang mereka. Jaman dahulu kala asuransi hanya di fokuskan pada perlindungan harta dagang orang orang Belanda, mulai dari asuransi saat pengiriman dan asuransi kebakaran. Maka tak heran jika hampir semua perusahaan asuransi yang berkembang kala itu adalah perusahaan asuransi yang didirikan oleh orang Belanda di Indonesia atau Perusahaan asli Belanda yang membuka cabang hingga ke Indonesia.

Ketika Jepang menduduki Indonesia, praktis tidak banyak perkembangan industri asuransi di Indonesia. Bahkan pada masa kependudukan Jepang. Perusahaan asuransi milik Belanda ditutup dan dilarang beroperasi.

Setelah Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada  tahun 1945, bisnis industri asuransi mulai menggeliat seiring perdagangan yang kembali aktif seusai perang dunia ke II. Hingga tahun 1964 industri asuransi Indonesia masih di kuasai oleh Belanda dan Inggris. Pada awal tahun 1946 didirikanlah sebuah badan asuransi yang bernama (BVU) yang merupakan kependekan dari “Bataviasche Verzekerings Unie”. Kegiatan perusahaan ini silakukan secara kolektif sehingga setiap penutupan masing-masing anggota BVU akan memperoleh share dalam jumlah tertentu.

Pada Tahun 1950 berdiri sebuah perusahaan asuransi kerugian pertama yaitu NV yang kemudian berubah naman menjadi PT. MAI PARK pada tahun 2004. Pada awal berdirinya perusahaan ini harus bersaing dengan perusahaan asuransi asing lain yang tentu saja lebih unggul dalam hal finansial serta teknis.

Dengan berdirinya NV membuat pengusaha nasional terpacu untuk mendirikan perusahaan-perusahan swasta nasional lain. Hal ini tak lepas dari regulasi pemerintah kala itu yang mewajibkan barang impor untuk di asuransikan di Indonesia. Hal ini dimaksudkan untuk menanggulangi pemakaian devisa untuk membayar premi asuransi di luar negeri.

Pada tahun 1953 berdiri sebuah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang re-asuransi Belanda dan Inggris di Indonesia. Namun devisa yang digunakan untuk membayarkan premi re-asuransi ke luar negeri masih besar. Untuk menanggulangi itu, didirikanlah PT. REASURANSI UMUM INDONESIA yang di dukung penuh oleh bank-bank pemerintah. PT. REASURANSI UMUM INDONESIA mengeluarkan banyak peraturan yang mengikat setiap perusahaan asuransi asing untuk me-reasuransikan perusahaannya pada perusahaan nasional, sehingga pada tahun 1963 PT. REASURANSI UMUM INDONESIA mampu memperluas bisnis asuransinya menjadi kegiatan asuransi jiwa.

Mulai saat itu banyak sekali bermunculan perusahaan-perusahaan swasta nasional dalam bidang asuransi, namun kalah bersaing dengan perusahaan asing yang lebih kuat dalam segala hal. Akhirnya pemerintah memutuskan untuk me-nasionalisasi perusahaan perusahaan asing yang telah lama berdiri, sehingga melindungi perusahaan swasta nasional untuk bisa bersaing.

Sejak saat itu industri asuransi terus berkembang. Jumlah penduduk Indonesia yang besar dianggap sebagai pasar yang menjanjikan, terbukti dari banyaknya perusahaan asuransi asing melebarkan sayapnya hingga ke Indonesia. Menawarkan beragam jenis polis mulai dari polis asuransi kesehatan, polis asuransi jiwa, polis asuransi kecelakaan, polis asuransi rumah dan lain-lain.

Beberapa waktu yang lalu CEO AXA Indonesia (salah satu perusahaan Asuransi di Indonesia) menyatakan masih rendahnya minat masyarakat Indonesia akan pentingnya asuransi di dalam kehidupannya. “Total kurang dari 5% dari 240 Juta jiwa, Rakyat Indonesia yang sudah memiliki Asuransi”. Hal ini membuat kita tidak perlu heran, alhasil ada sebuah survey yang dilakukan menyebutkan bahwa perkembangan industri asuransi di Indonesia berjalan sangat lambat bahkan paling lambat diantara negara-negara Asia Tenggara lain.

Kendati dianggap lambat, tetap saja Indonesia dianggap pasar yang menjanjikan untuk asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, begitu imbuh CEO AXA Indonesia. Asuransi kesehatan adalah salah satu polis andalan dari perusahaan-perusahaan asuransi untuk menarik minat masyarakat, karena masalah kesehatan dianggap sebagai isu yang krusial. Apalagi biaya kesehatan yang kelewat mahal menjadi isu ini sering diangkat dalam promosi dan perkenalan manfaat memiliki asuransi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

SEO by Jasa SEO